Aih… Andai kau masih punya hati …
Tentu sudah lama ‘kucuri’…
Kau tinggal di mana sih?
Kalimat itu, sehari yang lalu …
Saat percakapan dan ungkap kata menyasar pada satu objek bermakna penuh konotasi. Dadaku sesak sekali. Objek itu bernama hati. Dalam makna denotasi, hati mengacu pada sebuah anatomi dalam tubuh. Hati adalah organ terbesar manusia. Beratnya hingga 2 kilogram. Hati berfungsi mengatur segala sirkulasi, komposisi darah dan zat makanan apapun yang masuk ke dalam tubuh. Melalui fungsi regulasi, metabolisme, dan detoksifikasi, hati memegang posisi penyeimbang dan tak tergantikan dalam menjaga tubuh manusia. Hati begitu esensial. Tanpa hati, manusia akan mati. Karena hati yang rusak, seorang Cak Nur (Nurkholis Madjid) almarhum tidak mampu lagi bertahan. Dia divonis kanker hati dalam stadium tinggi. Saat meninggal wajahnya menghitam, sebagai tanda bahwa sirosis begitu akut menghinggapi tubuhnya. Sirosis pula yang membuat Dahlan Iskan memberikan pelajaran, betapa bergunanya hidup menghargai hati. Hatinya telah diganti dengan hati cangkokan melalui sebuah operasi mahaberat di Tiongkok. Ya, sang direktur PLN itu kini memang hidup dengan derma hati orang lain. Hati memang begitu penting, bahkan andai dia dalam makna denotasi.
Hati yang kita bahas itu, tiga hari yang lalu…
Adalah sebuah hati dalam makna konotasi. Hati yang mengacu pada segumpal perasaan. Hati yang mengacu pada sebuah kata tak terdefinisikan. Bagaimana mungkin kita mendefinisikan? mengingat dia selalu tak mampu dirasionalkan. Hati dalam makna ini adalah fondasi terdalam kehidupan. Mengingat fondasi, dia akan selalu mempersembahkan kenaifan dan kejujuran. Dia tak bisa bohong. Dia tak mungkin termanipulasi. Hati. Dia mempersembahkan yang terbaik bagi kita. Jika kita ingin menghambur marah, tanyalah hati, dia akan meredakan. Bila kita berniat menyumpah, tanyalah hati, dia akan mencegah. Andai kita merasa bahagia, tanyalah hati, berkata dia, ”Akulah penyulutnya!”. Hati begitu esensial. Hati pula yang membuat Musa bersimpuh di depan Khidhir karena telah jumawa, sombong, dan takabur dengan kepintarannya. Musa merasa dunia bisa dijawab dengan otak. Dia klaim bahwa dirinya adalah manusia terpintar di dunia. Nabi Khidhir memberi pelajaran bahwa pada saatnya, hati jauh lebih mulia ketimbang otak manusia. Hatilah yang menempatkan manusia pada sisi tertinggi kehidupannya, terlebih andai dia berada dalam makna konotasi.
Hati yang kita kupas itu, seminggu yang lalu…
Berupa sebuah rasa yang telah hilang darimu. Balas kata kita selalu berujung pada sebuah mantra hidup manusia. Namanya cinta. Sejak semula aku bilang, tidaklah mungkin membuat cinta bisa dirasionalkan. Kau marah spontan menolak pendapatku. Sejak awal aku bilang, cinta hanya sebuah kata yang tak terdefinisikan. Kau geram dan detik berikutnya membantah tak berkesudahan. Seperti biasa, kita selalu tiba pada sebuah contoh perjalanan cinta, atau entah apalah namanya. Perjalananmu dulu dengan lelaki durjana. Saat kau masih mengagung-agungkan cinta. Lalu tersadar begitu besarnya implikasi cinta yang terasa sempurna. Saat kesempurnaan itu tidak lagi ada dalam genggaman, kau putuskan pergi meninggalkan. Meninggalkan sang lelaki bajingan. Namun setelah itu, cinta tak pernah lagi kau lepaskan. Kau tak mampu lagi mencintai. Dalam geram marah dan kekusutan pikiran, spontan kutanyakan, “Apakah kau masih punya hati?”, dengan lirih matamu menatap sedih, “Aku telah letakkan hatiku disana, untuknya!”. Saat itu, tanpa kau tahu, berjuta sedih menggelantung di mataku, kalau begitu, “tak pernah ada lagikah hati itu untukku?”
Hati yang telah kau letakkan itu, dua belas tahun yang lalu…
Mungkin seperti hati yang diletakkan Juliet pada Romeo, mungkin seperti hati Isolde pada Tristan, atau Cordelia pada Penelope, semuanya mengacu pada kesempurnaan. Sekalipun mungkin bentangan fakta di depan mata terhampar menyakitkan. Itu semua tak merubah keyakinan. Cinta dan hati hanya sekali ditempatkan. Seumur hidup dia tak akan mampu terpindahkan. Itu pengakuanmu. Sebuah pengakuan yang membuat dadaku sesak tak tertahankan. Itu ungkapan kejujuran. Sebuah kejujuran yang membuat aku seolah tak memiliki lagi harapan. Jujur sekali aku iri. Dirimu begitu suci. Berkaca pada diri, otakku mengurai perjalanan hati. Membayangkan, apakah ada seseorang yang telah meletakkan hatinya untukku? Lalu membayangkan dan merasakan, apakah aku telah meletakkan hatiku, tanpa kusadari kapan itu terjadi? Sehingga implikasi dari kebencian atas rasa dihati tetap tak terobati hingga hari ini. Mungkin aku tak lagi punya hati. Di saat dahulu aku merasa hati yang didengarkan hanya membuat derita panjang. Hati yang dipeduli hanya membuat sakit disana-sini. Seperti apa rasa iriku hari ini, jelas aku punya asumsi. Karena hati yang telah kau letakkan, hingga hari ini kau tak pernah merasakan getaran itu lagi. Hati yang telah kau pasrahkan, membuatmu terus membandingkan. Tak ada lagi yang sempurna melebihi dia. Tak ada lagi yang kau cinta melebihi dirinya. Tak ada lagi sosok lain yang layak untuk mendapatkan hatimu. Apabila semua itu adalah tentang dia, lalu aku yang menatapmu kau anggap apa?
Hati yang tak lagi kau miliki, mendamparkanku hari ini…
Membuatku resah bertanya penuh marah. Kalimat itu mengintrospeksi. Apakah aku juga tak lagi punya hati? Kekosongan hatilah yang membuat aku tak lagi percaya akan apa itu cinta. Tak lagi yakin akan apa itu setia. Tak lagi mau terpapar akan rayuan gombal bernama perhatian. Bagiku hati telah mati. Seiring dengan pengalaman hidup yang terus menerus menyakitkan. Pengalaman akan menaruh hati pada seseorang yang beronak duri. Aku tak lagi percaya akan hati. Ketimbang terus menerus merasa sakit karena dilemanya, kuputuskan untuk tidak lagi memikirkannya. “andai kau masih punya hati,” Kalimat itu membuatku resah. Kutakutkan relasi kita dibina melalui fondasi tak berhati. Padahal, betapa inginnya kejelaskan, aku mengenalmu untuk kembali menemukan hatiku. Andai dia memang pernah hilang. Aku ingin dekat denganmu untuk kembali menghidupkan hatiku. Andai dia memang pernah mengalami kematian. Aku merasa nyaman denganmu karena kita berdua nampak tengah mengumpulkan kepingan puzzle yang berserakan, dalam sakitnya hantaman kesalahan pilihan. Kalau sudah demikian, rasanya lebih baik tak punya hati dalam makna denotasi, daripada tak lagi punya hati dalam makna konotasi. Bila pada makna pertama tubuh ini telah mati, dan itu akan berarti kejelasan, tanpa penasaran. Sebaliknya, pada makna kedua tubuh ini tetap bernyawa, namun dia tak lagi bisa dikatakan hidup di dunia. Tanpa memiliki hati dalam makna konotasi, kita bagaikan mayat hidup tanpa esensi. Tanpa kejelasan, hidup dihantui penasaran. Lalu, andai kau tahu kau telah menyimpan dan meletakkan hatimu pada dirinya, apakah kau menerima jika ku kata bahwa kau adalah sosok tak lagi melata di dunia? Mungkin semua orang sama seperti kita, sudah terlanjur meletakkan hatinya di sana. Tapi apakah itu jadi penanda telah berakhirnya dunia di depan kita?