tamblr

2 Mar 2011

you and me

you and me

2 Mar 2011

i love you..

i love you..

7 Feb 2011

Dalam Salah Itu..

Lima kali membacamu,

Berpuluh kali ku kutuk diriku

Bagaimana aku bisa menjaga hatimu

Bila setiap kilahku selalu menyayatmu sendu?

Tiap kali  kumerenungi,

Beratus kali ku sesali diri

Bagaimana mungkin aku bisa menoreh hatimu

Jika tiap sesal tak juga membuatku malu?

Setiap kali ku mencandra diri,

Berpuluh kali rasa bersalah menghinggapi

Naluriku bilang, aku memang terdakwa jalang

Lalu tanyaku padamu, bagaimana rasa salah ini bisa kubuang?

Berpuluh kali diri mencoba meyakinkan,

Bahwa seluruh kartu sudah kehamparkan

Masihkah aku berlagak suci,

Untuk sebuah ketulusan hati?

Lima kali mulutku mengungkap,

Berjuta kali hatiku meratap berharap

Bersama denganmu menjalani hari-hari

Ku semakin yakin, kamulah yang selama ini kucari

15 Dec 2010

Matamu, ada lelah di situ..

Menatap matamu, membuatku tahu …

Begitu banyak hal yang aku tak tahu. Begitu banyak makna dunia yang belum mampu kuraba. Menatap matamu, membuat diri kembali hampa. Kembali ke titik nol, begitu Annemarie Schimmel menulisnya. Nol yang selalu jadi misteri. Rasa hampa menyadari ketidaktahuan berkuasa. Namun menatap mata itu, aku merasa bahwa aku ingin tahu. Ingin tahu tentang cerita hidupmu. Ingin tahu lebih banyak akan pendirian dan prinsip hidupmu. Sebuah hidup yang menurut ceritamu begitu sarat dengan pilihan. Begitu penuh dengan ketidakpastian. Harus siap dengan segala kemungkinan. Berdasarkan pada frasa itu, tiba-tiba rasa penasaranku muncul. Aku jelajahi perpustakaanku. Mencari buku. Aku buka segala referensiku. Mencari berita, tulisan, dan artikel. Mencari bahan untuk mengulas kembali tentang filsafat kemungkinan. Membaca ulang segala komentar dan pemikiran para filsuf tentang kehidupan. Mencari tahu tentang bagaimana pilihan menjadi kalimat sakti dalam hidup seseorang. Aku membaca kembali dengan semangat yang kurasa sudah cukup lama menghilang. Kurasakan, menatap mata itu memberiku kekuatan. Sehebat itukah matamu ?

Kata orang, mata itu salah satu jalan meraih surga. Betapa tidak, melalui mata kita menyaksikan segala kebaikan. Mata menuntun kita menghela pahala. Melalui mata kita bisa membaca semua kitab suci yang diturunkan Tuhan dalam tradisi agama samawi.  Rangkaian kitab suci yang menurut Karen Amstrong semakin memantapkan posisi Tuhan dari reduksi pemaknaan nisbi antar generasi. Mata memberikan kemampuan untuk menyerap ayat-ayat Tuhan. Bagaimana andai kita tak punya mata ? logikanya, surga semakin jauh dari jangkauan. Kita kehilangan salah satu sarana untuk mencapainya ! Mengingat itu, aku berupaya untuk tahu, apakah mata sehebat itu ?

Menatap matamu, menyabarkanku …

Setiap kali menatap matamu, aku seolah terlepas dari penjara nafsu. Meski aku tahu bahwa dirimu tahu tentang segala pikiran nakal dan binal yang menggerayangi otakku. Dan aku tak pernah berpikir untuk menyembunyikan itu. Melalui bahasa non-verbal, aku ungkapkan. Hasrat untuk menyentuhmu. Insting merengkuhmu. Menjelajahi setiap lekuk tubuhmu. Betapa inginnya aku. Namun setiap menatap mata itu, semua hasrat itu menguap. Seolah menghilang bersama senyap. Kita berdua tahu, ada saat yang tepat untuk itu. Setiap otak berpikir tentang saat yang tepat, maka sebuah garis batas akan terbentang. Kesabaran tertantang. Aku harus menunggu. Dari situ, muncul kenikmatan baru. Permainan atas nama kendali, dalam sebuah situasi yang disepakati. Bergumul dalam sebuah kontestasi. Menatap mata itu, aku tertebar sabar. Segala nafsu hewani terlalu sederhana untukmu. Sehebat itukah matamu ?

Menatap mata itu, menyadarkanku …

Terlalu banyak pelajaran kehidupan yang begitu kulewatkan. Terlalu banyak peristiwa hidupku yang lupa aku syukuri. Terlalu banyak orang yang telah aku kecewakan. Terlalu banyak pekerjaan yang aku lalaikan. Dan terlalu banyak kenakalan yang menunggu karma di belakang. Namun saat menatap mata itu, rasanya semua solusi sudah siap aku ambil. Semua pemecahan sudah terbentang untuk dipilih. Di tengah kesadaran bahwa aku terperangkap dalam ketidaksadaran, mata itu memberi kekuatan. Dia menunjukkan posisi dan status. Lalu menetapkan sebuah aturan atas beragam peran. Kalimat sederhana mengalir dari mulutnya, “kita harus membuat perjanjian !”.  Mulai saat itu aku tersadar bahwa semua kesadaran harus diutamakan. Kesadaran atas kekecewaan orang. Kesadaran akan beban pekerjaan. Kesadaran tentang konsekuensi kenakalan. Mata itu mampu menyadarkan lewat sebuah pesan: bermainlah dengan kesadaran, nakallah dalam kesadaran, bahkan kecewakanlah orang dalam sebuah bingkai kesadaran. Semua tak boleh mengalir begitu saja. Begitu peran ditetapkan, peran itu harus dikelola. Dia tercipta karena diminta. Lewat matanya dia bercerita. Dan aku sibuk menduga dan bertanya, apakah matamu sehebat itu ?

Namun ditengah segala kekuatan, setiap kali mata itu kutatap dalam-dalam, nampak sebuah kelelahan. Kelelahan yang selalu coba kau sembunyikan. Kelelahan yang selalu ingin kau lawan. Aku yakin kau tak mau mata itu terlihat lelah, lalu kalah. Aku tahu bahwa kau memang tak pernah menyerah. Meskipun diserang dan dihajar dari segala arah. Setiap kali aku menanyakan. Sebenarnya mengonfirmasi segala dugaan dan tebakan, Kau segera tepis itu dengan ucapan, “itu masalah kalian,” sambil bibirmu menukas cepat, “diriku selalu merasa nyaman,”.  Padahal dalam hati aku selalu bergumam, “benarkah demikian ?”. Di tengah segala kekaguman atas ketegaran.  Di tengah segala upaya menjawab rasa penasaran, jawaban itu kembali membuatku enggan. Keengganan untuk berani mengutarakan kesadaran, keenggan untuk mengatakan beribu khayalan dan impian.

Ahh mata itu memang berbeda,begitu terlambat menyadarinya,apakah aku bertumbuh suka ?

Aku tak berani menjawabnya …

15 Dec 2010

Aku ingin sekali merasa lelah menunggumu

Aku ingin sekali merasa lelah menunggumu

Karena tiap kali matamu menembusku

Aku yakin yang kucari belum juga datang

Aku ingin sekali merasa lelah menunggumu

Dan tinggalkan lampu-lampu redupmu

Yang gelap terangi celah hatiku

Aku ingin sekali merasa lelah menunggumu

Lalu pergi ke pondokku istirahat

Untuk temukan kamu yang lain

Aku ingin sekali merasa lelah menunggumu

Tapi tiap kali aku terbangun kamu masih penuhi bingkai-bingkai di mataku

3 Dec 2010

[Flash 9 is required to listen to audio.]

when will you back?

Play count: 0

17 Oct 2010

Andai kau masih punya hati

Aih… Andai kau masih punya hati …

Tentu sudah lama ‘kucuri’…

Kau tinggal di mana sih?

Kalimat itu, sehari yang lalu …

Saat percakapan dan ungkap kata menyasar pada satu objek bermakna penuh konotasi. Dadaku sesak sekali.  Objek itu bernama hati.  Dalam makna denotasi, hati mengacu pada sebuah anatomi dalam tubuh.  Hati adalah organ terbesar manusia. Beratnya hingga 2 kilogram. Hati berfungsi mengatur segala sirkulasi, komposisi darah dan zat makanan apapun yang masuk ke dalam tubuh. Melalui fungsi regulasi, metabolisme, dan detoksifikasi, hati memegang posisi penyeimbang dan tak tergantikan dalam menjaga tubuh manusia. Hati begitu esensial. Tanpa hati, manusia akan mati. Karena hati yang rusak, seorang Cak Nur (Nurkholis Madjid) almarhum tidak mampu lagi bertahan. Dia divonis kanker hati dalam stadium tinggi. Saat meninggal wajahnya menghitam, sebagai tanda bahwa sirosis begitu akut menghinggapi tubuhnya. Sirosis pula yang membuat Dahlan Iskan memberikan pelajaran, betapa bergunanya hidup menghargai hati. Hatinya  telah diganti dengan hati cangkokan melalui sebuah operasi mahaberat di Tiongkok. Ya, sang direktur PLN itu kini memang hidup dengan derma hati orang lain. Hati memang begitu penting, bahkan andai dia dalam makna denotasi.

Hati yang kita bahas itu, tiga hari yang lalu…

Adalah sebuah hati dalam makna konotasi. Hati yang mengacu pada segumpal perasaan. Hati yang mengacu pada sebuah kata tak terdefinisikan. Bagaimana mungkin kita mendefinisikan? mengingat dia selalu tak mampu dirasionalkan. Hati dalam makna ini adalah fondasi terdalam kehidupan. Mengingat fondasi, dia akan selalu mempersembahkan kenaifan dan kejujuran. Dia tak bisa bohong. Dia tak mungkin termanipulasi. Hati. Dia mempersembahkan yang terbaik bagi kita. Jika kita ingin menghambur marah, tanyalah hati, dia akan meredakan. Bila kita berniat menyumpah, tanyalah hati, dia akan mencegah. Andai kita merasa bahagia, tanyalah hati, berkata dia, ”Akulah penyulutnya!”.  Hati begitu esensial. Hati pula yang membuat Musa bersimpuh di depan Khidhir karena telah jumawa, sombong, dan takabur dengan kepintarannya. Musa merasa dunia bisa dijawab dengan otak. Dia klaim bahwa dirinya adalah manusia terpintar di dunia. Nabi Khidhir memberi pelajaran bahwa pada saatnya, hati jauh lebih mulia ketimbang otak manusia. Hatilah yang menempatkan manusia pada sisi tertinggi kehidupannya, terlebih andai dia berada dalam makna konotasi.

Hati yang kita kupas itu, seminggu yang lalu…

Berupa sebuah rasa yang telah hilang darimu. Balas kata kita selalu berujung pada sebuah mantra hidup manusia. Namanya cinta. Sejak semula aku bilang, tidaklah mungkin membuat cinta bisa dirasionalkan. Kau marah spontan menolak pendapatku. Sejak awal aku bilang, cinta hanya sebuah kata yang tak terdefinisikan. Kau geram dan detik berikutnya membantah tak berkesudahan. Seperti biasa, kita selalu tiba pada sebuah contoh perjalanan cinta, atau entah apalah namanya. Perjalananmu dulu dengan lelaki durjana. Saat kau masih mengagung-agungkan cinta. Lalu tersadar begitu besarnya implikasi cinta yang terasa sempurna. Saat kesempurnaan itu tidak lagi ada dalam genggaman, kau putuskan pergi meninggalkan. Meninggalkan sang lelaki bajingan. Namun setelah itu, cinta tak pernah lagi kau lepaskan. Kau tak mampu lagi mencintai. Dalam geram marah dan kekusutan pikiran, spontan kutanyakan, “Apakah kau masih punya hati?”, dengan lirih matamu menatap sedih, “Aku telah letakkan hatiku disana, untuknya!”. Saat itu, tanpa kau tahu, berjuta sedih menggelantung di mataku, kalau begitu, “tak pernah ada lagikah hati itu untukku?”

Hati yang telah kau letakkan itu, dua belas tahun yang lalu…

Mungkin seperti hati yang diletakkan Juliet pada Romeo, mungkin seperti hati Isolde pada Tristan, atau Cordelia pada Penelope, semuanya mengacu pada kesempurnaan. Sekalipun mungkin bentangan fakta di depan mata terhampar menyakitkan. Itu semua tak merubah keyakinan. Cinta dan hati hanya sekali ditempatkan. Seumur hidup dia tak akan mampu terpindahkan. Itu pengakuanmu. Sebuah pengakuan yang membuat dadaku sesak tak tertahankan. Itu ungkapan kejujuran. Sebuah kejujuran yang membuat aku seolah tak memiliki lagi harapan. Jujur sekali aku iri. Dirimu begitu suci. Berkaca pada diri, otakku mengurai perjalanan hati. Membayangkan, apakah ada seseorang yang telah meletakkan hatinya untukku? Lalu membayangkan dan merasakan, apakah aku telah meletakkan hatiku, tanpa kusadari kapan itu terjadi? Sehingga implikasi dari kebencian atas rasa dihati tetap tak terobati hingga hari ini.  Mungkin aku tak lagi punya hati. Di saat dahulu aku merasa hati yang didengarkan hanya membuat derita panjang. Hati yang dipeduli hanya membuat sakit disana-sini. Seperti apa rasa iriku hari ini, jelas aku punya asumsi. Karena hati yang telah kau letakkan, hingga hari ini kau tak pernah merasakan getaran itu lagi. Hati yang telah kau pasrahkan, membuatmu terus membandingkan. Tak ada lagi yang sempurna melebihi dia. Tak ada lagi yang kau cinta melebihi dirinya. Tak ada lagi sosok lain yang layak untuk mendapatkan hatimu. Apabila semua itu adalah tentang dia, lalu aku yang menatapmu kau anggap apa?

Hati yang tak lagi kau miliki, mendamparkanku hari ini…

Membuatku resah bertanya penuh marah. Kalimat itu mengintrospeksi. Apakah aku juga tak lagi punya hati? Kekosongan hatilah yang membuat aku tak lagi percaya akan apa itu cinta. Tak lagi yakin akan apa itu setia. Tak lagi mau terpapar akan rayuan gombal bernama perhatian. Bagiku hati telah mati. Seiring dengan pengalaman hidup yang terus menerus menyakitkan. Pengalaman akan menaruh hati pada seseorang yang beronak duri. Aku tak lagi percaya akan hati. Ketimbang terus menerus merasa sakit karena dilemanya, kuputuskan untuk tidak lagi memikirkannya. “andai kau masih punya hati,” Kalimat itu  membuatku resah.  Kutakutkan relasi kita dibina melalui fondasi tak berhati. Padahal, betapa inginnya kejelaskan, aku mengenalmu untuk kembali menemukan hatiku. Andai dia memang pernah hilang. Aku ingin dekat denganmu untuk kembali menghidupkan hatiku. Andai dia memang pernah mengalami kematian.  Aku merasa nyaman denganmu karena kita berdua nampak tengah mengumpulkan kepingan puzzle yang berserakan, dalam sakitnya hantaman kesalahan pilihan. Kalau sudah demikian, rasanya lebih baik tak punya hati dalam makna denotasi, daripada tak lagi punya hati dalam makna konotasi. Bila pada makna pertama tubuh ini telah mati, dan itu akan berarti kejelasan, tanpa penasaran. Sebaliknya, pada makna kedua tubuh ini tetap bernyawa, namun dia tak lagi bisa dikatakan hidup di dunia. Tanpa memiliki hati dalam makna konotasi, kita bagaikan mayat hidup tanpa esensi. Tanpa kejelasan, hidup dihantui penasaran. Lalu, andai kau tahu kau telah menyimpan dan meletakkan hatimu pada  dirinya, apakah kau menerima jika ku kata bahwa kau adalah sosok tak lagi melata di dunia? Mungkin semua orang sama seperti kita, sudah terlanjur meletakkan hatinya di sana. Tapi apakah itu jadi penanda telah berakhirnya dunia di depan kita?

11 May 2010

Sepi telah mencabik-cabik hasratmu menjadi ribuan nafsu

Lalu kau jadikan senjata untuk mengkhianatiku

Di balik keluguan malam kau torehkan noda biru Menyatu bersama nafas yang saling memburu

Gelap telah menjerumuskanmu ke tepi jurang yang curam

Di mana tak kau temukan celah tempat berpendarnya cahaya bulan

Membias bersama luruhnya dedaunan seperti lukisan buram

Kau banjiri kanvas dengan peluhmu

Setitik nila kau teteskan di hamparan putih bersalju Seketika warna putih berubah menjadi kelabu

Jika kemudian malam telah berubah siang

Lukisan itu tak jua terlihat terang

31 Mar 2010

mungkin beginilah ekspresi orang yang menahan buang air besar di saat pentas.mas pemain kuda lumping ini sedang sangat amat tersiksa saya rasa..

mungkin beginilah ekspresi orang yang menahan buang air besar di saat pentas.mas pemain kuda lumping ini sedang sangat amat tersiksa saya rasa..

31 Mar 2010

ibu yang satu ini terlihat sangat amat kuat menyunggi keranjang penuh pisang.berapa kilo ya itu?kepalanya kuat banget..ckck saya tidak bisa membayangkan jika saya yang menyungginya.dijamin leher saya pasti patah.

ibu yang satu ini terlihat sangat amat kuat menyunggi keranjang penuh pisang.berapa kilo ya itu?kepalanya kuat banget..ckck saya tidak bisa membayangkan jika saya yang menyungginya.dijamin leher saya pasti patah.